Zuhud berarti menyalahi (tidak mengikuti) keinginan. Mengenai hakikat zuhud secara syari’at, banyak sekali perbedaan pendapat. Misalnya saja, Imam Ahmad, Sufyan Ats Tsauri, dan beberapa ulama lainnya berpendapat bahwa zuhud adalah memperpendek angan-angan. Menurut Ibnu Al-Mubarak, zuhud6 adalah mempercayakan kepada Allah. Sementara menurut Ibnu Sulaiman Ad-Darani, zuhud adalah meninggalkan segala hal yang dapat menyibukkan diri dari Allah Ta’ala. Dan lain-lainya lagi, yang pada intinya menganggap kecil dunia secara keseluruhan  keadaan dunia.

Zuhud adalah kosongnya hati dari kecenderungan kepada sesuatu yang melebihi ukuran kebutuhan dunia dan kosongnya hati dari mempercayakan kepada makhluk.

 

Dalam bahasa Arab, rujuk (dari kata ruju’) berarti mengembalikan secara istilah, dalam artian syar’i, maknannya adalah mengembalikan seorang istri kepada ikatan perkawinan semula. Yang dilakukan selama dia masih dalam mas ‘iddahnya yang bukan iddah dari thalaq bain (menthalaq istri dengan tiga thalaq).

Ijma ulama menyebutkan bahwa seorang suami jika telah menceraikan istrinya dengan satu atau dua kali thalaq, boleh kembali kepada istrinya, berdasarkan firman Allah SWT yang artinya sebgai berikut :

Dengan suami-suami mereka berhak merujuk meraka dalam masa iddahnya jika meraka (para suami) menghendaki ishlah.” (QS. Al-Baqarah: 228).

                Dengan dasar ayat tersebut, setiap suami memiliki hak untuk merujuk istri yang telah diceraikannya, walaupun istri tidak menyetujuinya. Hal demikian sebagaimana juga mereka mempunyai hak untuk menceraikan istrinya kapan saja, walaupun sang istri tidak menyetujuinya. Karena thalaq & rujuk merupakan hak yang hanya dimiliki suami.

Jadi, apa yang dikatakan suami anda itu benar. Dengan perkataannya bahwa dia telah rujuk dengan anda, saat itu dia telah menjadi istri anda.

Syarat sah Rujuk

Pertama, istri pernah disetubuhi suaminya tersebut. Karena jika belum pernah kemudian diceraikan, ia tidak mempunyai iddah. Dengan kondisi yang seperti ini suami ingin kembali kepadanya harus dengan akad nikah yang baru.

Kedua, suami tidak menthalaq istrinya dengan cara thalaq khulu’ (thalaq karena ada iming-iming imbalan untuk suami). Suami bila ingin rujuk kembali harus dengan akad nikah yang baru.

Ketiga, thalaq sang suami bukan thalaq yang ketiga. Dalam kondisi seperti ini, suami tidak boleh rujuk kembali, kecuali bila ada muhallil (nikah lagi dengan pria lain).

Keempat, suami merujuk kembali dalam masa iddahnya. Jika sudah selesai dalam masa iddahnya suami tidak boleh kembali kepada mantan istrinya kecuali dengan akad nikah yang baru.

Kelima, suami merujuk istri secara sukarela, tanpa ada suatu paksaan. Jika ada paksaan tidak sah.

Keenam, suami yang melakukan rujuk tersebut adalah pria yang sudah baligh dan berakal, Tidak sah thalaq sang suami yang belum baligh, apalagi rujuknya. Begitu pula tidak sah rujuknya sang suami yang hilang ingatan atau gila.

Kelima, suami merujuk istri secara sukarela, tanpa ada suatu paksaan. Jika ada paksaan tidak sah.

Keenam, suami yang melakukan rujuk tersebut adalah pria yang sudah baligh dan berakal, Tidak sah thalaq sang suami yang belum baligh, apalagi rujuknya. Begitu pula tidak sah rujuknya sang suami yang hilang ingatan atau gila.

Lafazh saat Merujuk

Pertama, lafazh sharih, yaitu lafazh dengan makna yang jelas, sehingga jika suami mengucapkannya rujuknya sah, tanpa harus menyertakan niat merujuk saat mengucapkannya.

Kedua, lafazh kinayah, yaitu lafazh dengan makna kiasan yang maknanya dapat diartikan merujuk istri atau pula dapat pula bermakna lain.

Ada perbedaan dengan lafazh sharih karena, pada lafzh kinayah, agar rujuknya sah, ketika mengucapkannya harus menggunakan niat untuk merujuk.

Kalimat kinayah tidak terbatas jumlahnya, misalkan dengan kalimat-kalimat “aku akan mengawinimu” aku akan memelukmu, aku akan menafkahimu, aku akan mengurusmu lagi’ dan masih banyak yang lainnya.

Menurut imam Dainuri, Sholawat Munjiyat ini sangat baik bila diamalkan secara sungguh-sungguh apabila seseorang sedang mengalami kesulitan. Seperti terancam bahaya alam berupa kekeringan, kelaparan, penyakit menular, serta apabila mempunyai keinginan atau cita-cita yang hendak dicapai. Hendaklah membaca sholawat munjiyat ini sebanyak mungkin pada setiap selesai mengerjakan sholat fardlu 5 waktu.

Sedangkan menurut Imam Jazuli dan Syeikh Al-Buni mengatakan, apabila seseorang membiasakan diri membaca sholawat ini sebanyak 1000x pada waktu tengah malam, insya Allah segala hajatnya akan tepenuhi, baik hajat di dunia maupun hajat di akherat kelak. Berikut bacaan sholawat munjiyat :

“Allohumma sholli  ‘ala syaiyida Muhammad wa’ala ali syaiyidina Muhammad  sholatan tunjina biha min jami’il ahwali wal afat wataqdilana biha jami’il hajat watutohhiruna biha min jami’is syai yiat watarfa’una biha a’lad darojat watuballi ghuna biha aqshol ghoyat min jami’il khoiroti fil hayati waba’dal mamat”

Artinya :

Wahai tuhanku, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW dan keluarganya. Semoga dengan itu engkau selamatkan kami dari segala macam bencana dan musibah, engkau tunaikan segala hajat kami, engkau hindarkan kami segala kejahatan, engkau tingkatkan derajat kami dan engkau sampaikan tujuan kami baik dalam hidup kami atau sesudah kami mati.”

Nampak tidak ada sedikitpun dari doa ini yang aneh. Tpi bagi golongan faham tertentu, doa ini sudah dianggap pintu murtad. Alasannya aneh bin ajaib, yakni dianggap bahwa nabi Muhammad dianggap sebagai tuhan yang melepaskan orang dari marabahaya. Bagi yang tidak mengerti pelajaran nahwu (Grammar) tentu akan ketakutan dituduh syirik. Apalagi yang menuduh orang yang berpenampilan “sangat islami” dengan jenggot beberapa lembar dan dahi yang hitam. Tidak heran bagi awam akan langsung ketakutan. Padahal sudah sangat jelas di kalimat tersebut, bahwa kata “tunjina biha min jamiil ahwal” itu memiliki fiil “ tunjiina” dan jar-majrur “biha”. “Tunjiina” itu dari kata kerja  yunjii (menyelamatkan) yang ber-fail (subject) anta (engkau). Yang tak lain adalah Allah (yang disebut di “allhumma” tadi).

Sedangkan “biha” adalah kata depan  bi (dengan) ditambah ha (kata ganti muannats untuk kata shalawat yang sudah jelas muannats). Jadi, maknanya adalah “ dengan berkah dari membaca shalawat itu sendiri. Semoga engkau, Ya Allah, menyelamatkan kami dari marabahaya.” nah, dari analisis grammar ini, jelaslah bahwa pelaku (subjek) dari “menyelamatkan” itu jelaslah kata “engkau” (Allah SWT). Untuk itu tidak ada sedikitpun kemurtadan disana. Justru dengan memohon langsung kepada Allah SWT dengan diiringi bacaan sholawat itu akan membuat doa jadi di-ijabah oleh Allah SWT. Insya Allah dengan analisa ini, seorang muslim tidak akan mudah terpengaruh atau dipermainkan oleh sekte radikal tersebut

Allah Menciptakan Tujuh malaikat sebelum Dia Menciptakan langit dan bumi. Di setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu. Ibn Mubarak mengatakan bahwa khallid bin Ma’dan berkata kepada sababat Mu’adz bin Jabal RA, “Ceritakanlah satu hadist yang kau dengar dari rosulluah SAW, yang kau menghafalnya dan setiap hari kau mengingatnya lantaran saking keras, halus dan dalam makna hadits tersebut.

Mu’adz menjawab, “Baiklah, akan kuceritakan.” Sesaat kemudian, ia pun menangis hingga lama sekali, lalu ia bertutur, “Hmm, kangen sekali hati ini kepada Rosulluah SAW, ingin rasanya segera bersua dengan beliau.”

Ia melanjutkan, “Suatu saat aku menghadap Rosulullah SAW, kemudian beliau SAW berkata, “Sekarang Aku akan menceritakan satu cerita kepadamu yang, apabila engkau hafalkan, akan berguna bagimu, tapi kalau kau sepelekan, engkau tidak akan mempunyai hujjah kelak di hadapan Allah SWT.”

Amal yang Tertolak

“Hai, Mu’adz! Allah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan langit & bumi. Pada setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu, dan tiap-tiap pintu langit dijaga oleh malaikat penjaga pintu sesuai kadar pintu & keagungannya. Maka, malaikat hafazhah (malaikat yang memelihara & mencatat amal seseorang) naik kelangit dengan membawa amal seseorang yang cahayanya bersinar-sinar bagaikan cahaya matahari. Ia yang menganggap amal orang tersebut itu banyak, memuji amal-amal orang itu.

Tapi sampai di pintu langit pertama, berkata kepada malaikat hafazhah, ‘Tamparkanlah amal ini kewajah pemiliknya. Aku diperintahkan untuk tidak menerima masuk tukang mengumpat orang lain. Jangan sampai amal ini melewatiku untuk mencapai langit berikutnya. Ke esokan harinya dilangit kedua mengatakan, ‘berhentilah, dan tamparkan amal ini kewajah pemiliknya. Sebab dengan amalnya itu dia mengharap keduniaan. Allah memerintahkanku untuk menahan amal seperti ini. Maka seluruh malaikat pun melaknat orang tersebut sampai sore hari.

Kemudian malaikat hafazhah naik lagi ke langit dengan membawa amal hambanya yang sangat memuaskan, di penuhi amal sedekah, puasa, & bermacam-macam kebaikan. Namun, sampai di langit ketiga, malaikat penjaga pintu langit ketiga berkata. ‘Tamparkanlah  amal ini kewajah pemiliknya, aku malaikat penjaga orang sombong.

Kemudian ada lagi malaikat hafazhah yang naik langit keempat membawa amal seseorang yang bersinar bagaikan bintang yang paling besar, suaranya bergemuruh, penuh dengan tasbih, puasa,shalat, naik haji & umrah. Sampai dilangit keempat, malaikat penjaga pintu langit keempat berkata, tamparkanlah amal ini kewajah pemiliknya, aku ini penjaga orang-orang yang suka ujub (membanggakan dirinya).

Kemudian naik lagi malaikat hafazhah ke langit kelima, membawa amal hamba yang diarak bagaikan pengantin wanita diiring kepada suaminya, amal yang begitu bagus, seperti amal jihad, ibadah haji,ibadah umroh. Cahaya itu bagaikan sinar matahari. Namun, begitu sampai dilangit kelima, berkata malaikat penjaga pintu langit kelima, ‘Aku ini penjaga sifat hasut (dengki, iri hati). Tidak akan aku biarkan amal ini melewati pintuku.

Kemudian ada lagi malaikat hafazhah naik dengan dengan membawa amal lain berupa wudhu yang sempurna, sholat yang banyak, puasa, haji, & umrah. Tetapi sampai ia di langit keenam, malaikat penjaga pintu mengatakan, ‘ Aku ini malaikat penjaga rahmat. Amal yang seolah-olah bagus ini, tamparkanlah kewajah pemiliknya. Salah sendiri ia tidak pernah mengasihi orang. Apabila ada orang lain yang terkena musibah, ia merasa senang. Aku diperintahkan agar amal seperti ini tidak melewatiku hingga sampai langit berikutnya.

Kemudian ada lagi malaikat hafazhah naik kelangit tujuh dengan membawa amal seorang hamba berupa beracam-macam sedekah, puasa, sholat, jihad, & kewaraan. Suaranya pun gemuruh bagaikan geledek. Cahayanya bagaikan kilat. Namun tatkala di langit ketujuh, malaikat penjaga langit ke tujuh mengatakan, ‘Aku ini penjaga sum’at ( ingin terkenal). Setiap amal yang tidak bersih karena Allah, itulah yang disebut RIYA’. Allah tidak akan menerima amal orang-orang yang riya.

Anak-anak yatim, janda-janda miskin, adalah bagian masyarakat yang harus lebih diperhatikan keadaanya. Mengasuh dan mengayomi mereka adalah tugas umat Nabi Muhammad SAW. Beliau pun akan membanggakan para pengayom ini & akan bersanding bersama mereka di surga. Dalam hadist yang diriwayatkan Al-Bukhori dalam kitab Thalaq bab Li’an & kitab Adab. Yang artinya sebagai berikut :

“Dari Sahl bin Said RA, ia berkata, “Rosulullah SAW bersabda, ‘Aku & orang yang menanggung anak yatim kelak berada di surga seperti ini’. Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk & jari tengah, serta merengggangkan sedikit jari-jari lainnya.” (HR Al-Bukhari).

Dalam bahasa Arab, anak yang ditinggal mati ibunya disebut  ujmi, sedangkan bila ditinggal mati keduanya disebut lathim. Namun dalam aspek hukum dan pengertian yang umum, kata “Yatim” mewakili makna anak yang ditinggal mati ayahnya dan atasnya hak untuk diasuh.

Dalam hadits lain diriwayatkan Al-Bukhari dalam kitab zakat bab firman Allah Ta’ala QS Al Baqarah (2):273 & kitab Tafsir serta kitab makanan adapun Muslim meriwayatkan dalam kitab zakat bab orang Miskin yang Tidak Punya Harta Sedikit pun. Dalam hadits shahih disebutkan yang artinya sebagai berikut:

“Dari abu hurairah RA, ia berkata, Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘orang miskin itu bukanlah yang tergiur oleh satu-dua buah biji kurma atau satu dua kali suapan makanan. Sesungguhnya orang miskin itu adalah orang yang menjaga kehormatan dirinya (dari meminta-minta).

Di dalam  QS Al-Ma’arij (70); 25 disebutkan, orang miskin terbagi dua yaitu : Sa’il (Oarang miskin yang meminta-minta) dan mahrum (orang-orang miskin yang menjaga kehormatan dirinya). Kedua macam orang ini mempunyai hak yang ditentukan (zakat atau sedekah wajib) serta shadaqah (Pemberian serelanya). Islam sangat mencela perbuatan meminta-minta. Dan dalam pandangan islam, menjadi tugas Negara untuk mengurus dan mengayomi mereka sesuai kebutuhan.